SATU JAM DI PAGI HARI
(JAM ENAM PAGI DI PABRIK ROTI. DENGAN SERAGAM KERJA DAN
SERBET TERSAMPIR DI BAHUNYA, SUPIYEM BERJALAN KE SUDUT PABRIK TEMPAT ALAT-ALAT
KEBERSIHAN. KEMUDIAN IA MENGGERET TROLI KUNING BERKARAT DENGAN SEMBURAT WARNA
MERAH DI PEGANGANNYA. TAK LUPA SUPIYAH MENGISI DUA TIMBA BESAR YANG SUDAH
METENGKRENG DI ATAS TROLI DENGAN AIR KERAN. DUA BUAH PEL JUGA SUDAH BERDIRI
SALING BERTUBRUKAN DI SALAH SATU TIMBA. SEPERTI BIASA, IA MENGOMEL SEPANJANG
PERJALANAN MENUJU KARIDOR PABRIK YANG LUAS. SUPIYEM MELETAKKAN TROLI DI SISI
KORIDOR DAN BURU-BURU MENGAMBIL SAPU DAN CIKRAK.)
SUPIYEM : Gini nih kerjaannya babu. Ditinggal ngambil
sapu bentar, kalau ketahuan ada troli di sini bakal kena marah saya. Padahal
kan ini memang wilayah saya. Saya jadi tukang bersih-bersih, ya wajar dong
kalau troli masih di sini selagi saya ambil sapu. Ibu bos paling-paling bilang,
(merubah suara jadi cempreng) Bu Yem, jangan taruh troli di jalan, apalagi ada
airnya. Terus itu, bannya kotor, sudah saya bilang kan yang boleh lewat koridor
ini yang bannya bersih.
Ya saya kan sudah mikir (merubah suara menjadi normal).
Nggak mungkin saya bawa troli kotor ke koridor kramik ini. Kalau kotor yang
susah kan saya juga. Lagian, si tukang cuci-cuci itu sudah setiap hari kuomeli
untuk mencuci troli. Nyatanya, waktu mereka habis buat cuci loyang-loyang roti.
Belum keranjang-keranjang buat ngebal, ngirim roti ke seles, nggak mikir
itu para mbok-mbok. Itu tukang cuci-cuci cuma ada tiga orang, dua di
siang satu di malam, digilir terus. Terus aja gitu, padahal yang satu sudah
sepuh. Umurnya saja sudah seumuran ibu saya. Bahkan, yang paling muda di tukang
cuci-cuci itu kakak kelas SD saya. Kenal saya orangnya. Dia itu yang ngajak
kerja disini ya saya. (Supiyem mulai meyapu).
Dulu tempat ini nggak sesuram ini. Pegawai nggak harus
pake sepatu karet putih begini. Sakit tahu, jalan kesana kemari pake sepatu
beginian. Celemek kotor harusnya wajar, kita kerja. Sekarang apa-apanya kotor
dikit kena marah. Dulu nggak apa-apa. Sekarang? Ada jelemberetan selai
saja sudah diomeli. Kurangi poin sama dengan kurangi gaji. Kerjaan disini
berat. Ya oles selai, ya gotong roti, gosoking mesin, dorong troli, buka-tutup
oven raksasa, bikin adonan. Pada nggak mikir mereka. Itu-itu, si mbok-mbok
berciput hijau. Ya, mereka dulu ya kayak kami. Sama-sama babu, buruh. Dulu
ciput mereka ya merah muda gini, sama kayak ratusan orang disini, kayak punya
saya. Tapi, semenjak mereka diangkat jadi mbok, penyakit manusiawi mereka
muncul. Otoriter. Eh, apa ya otoriter? Nggak tahu apa, yang jelas
karyawan-karyawan baru lulusan SMK itu sering bilang gitu. Otoriter. Iya, iya,
anak SMK. Sekarang yang boleh daftar cuma lulusan SMK. Di bawah itu, ditolak
katanya. Nggak tahu kenapa, yang jelas tujuh tahun yang lalu enggak. Saya yang
nggak lulus SD saja bisa kerja disini. Itu si tukang cuci-cuci semua pada nggak
sekolah juga, ya cuma kakak kelas saya itu. Tapi, juga sama-sama nggak lulus
SD. Dan, sekarang harus lulusan SMK? Bener-bener seret ini pabrik.
Mungkin mau bangkrut kali ya? Tapi, kenapa produksinya
semakin banyak saja. Tahu nggak, kalo produksi banyak gitu kita jadi tertekan. Para
buruh yang kecekik. Bahkan itu buruh borongan yang duitnya deres pas banyak
roti pada ngeluh. Nggak punya libur. Badan pegel semua. Shift yang
biasanya dibagi tiga jadi cuma dua. Separuh hari mereka berdiri tegang di
tempat bising yang menekan. Lalu, apa kabar buruh hariannya? Mereka yang
dibayar segitu-gitu aja sehari. Banyak atau dikit roti yang mereka kerjakan
nggak akan menambah upah mereka kecuali lembur. Lembur pun malah semakin menekan
mereka. Ya kali, kerja jungkir balik kejar target yang gak masuk akal cuma
dapat empat ribu satu jamnya. Kalo saya jadi mereka ogah! Gilanya, gilaku juga
gila mereka, kadang tukang bersih-bersih macam saya ini dibawa-bawa. Okelah
saya memang berpengalaman disini. Mulai dari buat adonan, ngoven, sampai
packing saya mahfuz. Tapi, bukannya itu mengganggu pekerjaan utama yang sangat
penting ini? Gila kan? (rontokan sampah dimasukkan ke kantong sampah).
Ini lagi sampah! Anak-anak shift malam nggak
pernah bener. Kayak apa sih kerja mereka? Kenapa setiap pagi selalu kotor
begini? Pantas saja, ‘kan para mbok di shift malam nggak begitu banyak.
Lagi pula, Ibu bos nggak setiap saat muncul pas tengah malam kan? Eh iya,
(Supiyem teringat sesuatu) dulu kan pernah jam sebelas malem ibu bos tiba-tiba
muncul di tempat packing. Ya, saat itu saya dipaksa lembur sama mbok
kecil yang umurnya sebaya anak saya. Waktu itu saya mau saja, anak saya yang
sebaya dia itu pengen kawin, saya harus punya duit lebih. Bagai setan, saat itu
dia tiba-tiba muncul di sebelah mesin conveyor. Saya kaget, teman-teman
saya apalagi. Saya hanya tersenyum lalu mulai berceloteh saat itu. Haha
(tertawa menyeringai) kalau saya berucap, teman-teman tidak ada yang berani
menyangkal. Lihat saja tubuh timbun ini, (memamerkan tubuh) mereka pasti takut.
Jadi, saya karang-karang saja cerita. Intinya, saya membanggakan diri di depan
ibu bos. Saya nggak takut sama ibu bos. Dia mungkin yang takut sama saya.
(DARI BELOKAN UJUNG KORIDOR TERDENGAR SUARA DERAP LANGKAH
HAK SEPATU WANITA)
SUPIYEM : Waduh ibu bos. (mengambil pel dan berjalan ke
ujung lain koridor, fokus mengepel) jangan sampai dia mengomel pagi-pagi. Ah,
dia jarang ngomel di pagi hari sih. Paling nanti pas istirahat makan
siang ngomelnya. Ah, (Supiyem memunggungi arah datangnya suara. Ketika lebih
dekat ia sedikit mengintip. Bayangan wanita tinggi langsing terlihat.) Ah,
ternyata Mbak Dayu. (menghentikan kerja dan mengelus dada) Gitu ya kalau
sekolah tinggi. Bisa kerja bersih. Nggak pernah pegang sapu sama pel. Rambut
digerai nggak karuan. Eh, bukannya harus pake ciput kalau masuk pabrik. Ah,
sudahlah. Mereka punya seribu alasan. Otoriter. Nyawa kami ada di tangan dia,
HRD muda pindahan dari Bandung.
(meneruskan mengepel) Lantai putih gini bisa jadi coklat.
Bener-bener buat kerjaan saya jadi berat saja. Ini masih koridor, tempat sempit
begini. Belum itu tempat bongkar barang. Ya gini-gini ini yang beresin.
Orang-orang malam nggak akan tuntasin kerja, wong mulainya aja nanggung.
Duh, sepertinya pabrik beneran mau bangkrut. Mekanisme pegawai sama jam kerja
aja nggak teratur. Kasihan.
Haduh, kok ada selai jatuh segala. Hijau? Oh iya, pabrik
baru buat produk baru lagi. Roti isi selai kiwi. Aduh, mana lengket lagi di
lantai. (geram) awas saja kalau yang jatuhin ini ketemu.
SUPIYEM : Hayo, siapa yang semalam numpahin selai ke
lantai koridor? (BERTERIAK KE SALAH SATU SUDUT KORIDOR YANG MENUJU KE DALAM
PABRIK) Awas sampai ketemu! Tumpahan selai kiwi sulit dibersihin goblok! Tahu
nggak, coklat saja sulit. Tahu nggak, kiwi lebih mahal. Lebih mahal dari
coklat. Rugi perusahaan ini. Bangkrut bisa-bisa. Kita bakal di-PHK. Nganggur
semua. Ratusan orang ini bakal nganggur, tahu! Kerja yang bener.
(KARYAWAN LAIN TAK MENGHIRAUKAN TERLEBIH YANG DEKAT
DENGAN MESIN-MESIN BESAR, BISING.)
SUPIYEM : Dikira gila
saya. Dasar orang-orang nggak tahu terimakasih. Kalo nggak ada saya, nggak kira
bersih ini tempat. (GLOTAK-GLOTAK) Eh, Ibu Bos. Sudah datang rupanya. (sedikit
menunduk). Ini buk, ada anak yang numpahin selai semalem. Rugi kan, Bu. Kotor
lagi. Tenang, Bu, nanti saya bereskan. (BOS HANYA LEWAT DENGAN TAK ACUH DIIKUTI
GERAKAN TANGAN SUPIYEM YANG BERNIAT MELEMPAR PEL) Dasar nenek sihir. Ah, masih
tua saya rupanya. Dasar penyihir. Eh, dasar bos, emh, (berpikir). Ah, (putus
asa dan kembali berkerja) untung cuma lewat ya. Ah, untung. Benar. Andai
berhenti dan melotot seperti biasanya akan kusiram dengan air pel ini. (menoleh
ke troli) ah, benar. Saya kan pakai troli yang ada merah-merahnya ini. Persetan
dengan roda kotor, asal pegangannya berwarna merah aku aman. Bos goblok!
Menilai pekerjaan karyawan, dari luarnya saja. Pantas pabrik ini mau ditutup.
Aduh, tapi kasihan anak-anak baru itu. Aduh, masih kecil-kecil pula. Baru lulus
SMK, baru ngerasain aroma duit. Belum juga sengsara dalam kerja bakal turut di
PHK. Ah. Kasihan. Masa bakal dipecat? Hmmm, biarlah aku dengan pekerjaanku.
(SUPIYEM MULAI MENGEPEL DARI UJUNG KORIDOR)
SUPIYEM : (MENDONGAK KE
ARAH PINTU KAMAR MANDI) Tahu tidak, kamar mandi-kamar mandi itu, pintunya pada
baru semua. Ya, pabrik ini memang baru, sih. Baru setahun kalau tidak salah.
Dulu pabrik yang lama memang kecil dan kotor, tapi enak, aturan-aturannya gak
ribet. Asal produksi, sudah. Sekarang ribet. Kamar mandi saja harus bersih
banget. Steril katanya. Ada sabun di setiap sudut tempat yang ada air. Mencuri
dengar dari gosipan para mbok, satu pintu itu harganya delapan juta! Gila
tidak? Bisa buat beli motor impian anakku satu pintunya saja. Percaya? Awalnya aku
juga tidak percaya. Sampai beberapa waktu yang lalu ada sebuah kejadian.
Namanya Maimunah, janda kembang yang hidup sendirian. Dia kepergok menutup
pintu kamar mandi dengan keras. Sialnya dia, bu bos ada di sana saat itu.
Sebuah kepastian jika dia mendapat plototan dan kata-kata kasar. Tapi, ternyata
tidak berhenti di situ. Kalian tahu, besoknya dia dipanggil dan mendapat surat scorsing.
Saya nggak tahu betul berapa lama. Sepertinya sudah lebih dari tiga pekan.
Nggak ngitung pastinya sih, dengar-dengar sebulan, gitu. Gila kan ya ini
pabrik? Untung si Maimunah nggak punya anak atau orang tua yang musti
dihidupin. Ya, paling-paling dia kelaparan selama satu bulan. Eh, nggak tahu
juga sih. Tapi tapi, yang lebih kasihan lagi itu pas dia sudah masuk lagi. Tahu
tidak apa yang terjadi? Dia dipindah kerjakan ke bagian bongkar-bongkar. Bukan
apa-apa sih, disana nggak enak. Waktu kerjanya sangat nggak teratur. Pokok ada
roti kering ya masuk, kalo pas masuk belum matang ya nunggu, kalo banyak ya
lembur. Dan gaji sama. Satu hal lain yang tidak menyenangkan kerja di bongkar,
dia sendiri. Seperti terasing. Ya, kayak saya ini. Terasing. Kerja sendiri.
Nggak punya tim kayak tim packing, cream, oven atau forming.
Sendiri. Kerja sendiri. Untung saya banyak omong. Nggak hanya jadi patung yang
bisa gerak. Bisa ngomel sana, ngomel sini. Nah, Maimunah, kalo nggak disenggol
gak gerak. Kalo nggak diajak ngomong, ya nggak ngomong. Aku ragu sih kalau
alasan pemindahan Maimunah cuma gara-gara pintu. Mungkin itu hanya alasan
membuang orang-orang goblok.
Sedikit bergosip, Maimunah
dianggap paling lamban berpikir oleh timnya selama ini. Ya, dia sudah lama
kerja di sini. Pernah di berbagai divisi, seperti saya dulu. Dan paling sulit
diajak koordinasi dan komunikasi. Maklum nggak lulus SD. Eh, saya nggak bodoh
kayak dia yang pasti. Tapi saya penasaran juga, orang kayak Maimunah ternyata
pernah jadi TKW. Seperti kebanyakan buruh-buruh di pabrik ini yang ex-luar
negeri, Maimunah pernah ke Arab Saudi. Selalu jika mengobrol dengannya ujung-ujungnya
bicara Arab. Ya Mekah, ya apalah itu. Saya nggak tahu tentang Arab. Saya pun di
sini dianggap lulusan luar negeri. Padahal selama ini saya bercanda (MELIRIHKAN
SUARA) bohong gitu. Mereka percaya saja. (MENGGELENG-GELENG) kalian tahu betapa
sulitnya mencari kerja. TKW saja sulit, apalagi yang lain. Untung saya dulu
masih diterima di tempat ini. Maka dari itu, saya penasaran bagaimana orang
seperti Maimunah itu bisa kerja ke luar negeri. Atau jangan-jangan selama ini
Maimunah bohong, (MELIRIHKAN SUARA) seperti saya. Atau jangan-jangan semua
orang di sini berbohong.
Hampir semua buruh lulusan
luar negeri, hahaha (tertawa). Kalau tidak, ya emak-emak macam saya. Kalau
nggak lagi, palingan anak bau kencur yang harus cari duit. Iya, sebelum ada
aturan-aturan njelimet itu, anak di bawah umur lulusan apapun boleh ikut
kerja. Ada yang dulu ikut kerja di sini pas umurnya belum genap lima belas
tahun. Kaget dong saya. Anak saya pas umur segitu masih disuapin. Nah ini bocah
udah kerja aja. Tuntutan ekonomi katanya. Ibunya yang sakit-sakitan baru
meninggal. Adiknya juga butuh duit buat nerusin sekolah SMP. Bapaknya nggak
tahu kemana, dari kecil dia nggak pernah ketemu katanya. Kasihan.
Ya sudah, disini beragam usia ada. Mau yang perawan
kinyis-kinyis macam bocah tadi ada. Yang ranum macam para lulusan SMK ada,
janda-janda kembang banyak. Janda bohai apalagi. Emak-emak jadi mayoritas.
Tapi, yang perkasa macam saya, ya hanya saya ini. Yang ngomongnya banyak ya
saya ini.
Eh, jangan kira pegawai disini wanita-wanita ya, di sini
juga ada prianya loh. Mas-mas tukang mekanik itu contohnya. Semua mekanik di
sini pria. Sebutan kerennya apa ya? Kok lupa saya. (berhenti sejenak dan
berpikir). Oh, enginer. Iya, itu bahasa asingnya. Ya, kerjaannya mas-mas
itu benerin mesin-mesin yang mogok atau ada gimana-gimana pas beroperasi. Hm,
kalau ditanya seberapa sering mas-mas itu ada di mesin, sering banget. Mesin conveyor
saja yang sangat sederhana sering sekali eror. Itu tuh, mesin yang gerak terus
nggak berhenti-berhenti kayak tangga berjalan di mall. Gini-gini saya pernah ke
mall (memukul-mukul dada sombong). Eh, ngomongin conveyor ya? Iya mesin conveyor
itu sering nyelip gitu jalannya. Jadi roti-roti yang sudah di packing kadang
kabur-kabur. Itu paling ya, salah satu tanda-tanda pabrik ini mau gulung tikar.
Uh, apalagi mesin packingnya. Parah deh (menggeleng-geleng). Masak ya,
yang tidak lolos packing buanyak banget. Saya ini sering bantuin orang
belakang ngitung wes (plastik rusak hasil packing). Uluh, rugi banyak deh
gara-gara mesin packing yang jelek itu. Itu padahal sudah dibawah pengawasan
dan bantuan langsung mas-mas mekanik. Gimana kalau tidak? Bakal rugi besar.
Itu, baru segelintir mesin. Ada yang namanya mesin suntik, gunanya buat isi
cream atau selai. Dan ih, sering juga mogok. Banyak yang gak keluar selainya.
Ancur deh. Belum lagi oven. Denger-denger ada oven yang sering gosong. Entah
orangnya entah ovennya yang eror. Belum lagi mesin-mesin di bagian forming.
Itu, yang main-main adonan. Ah, pokoknya banyak deh. Dan tahu tidak, setiap shif
cuma ada dua mekanik. Dua! (menunjukkan dua jari) dua! Cuma dua! Jadilah para
laki-laki itu jadi rebutan di banyak divisi. Eh, tunggu-tunggu, kalau mau
bangkrut, kok saya lihat ada satu mesin packing sekaligus dua conveyor
di luar tadi ya. Saya belum sempat tanya-tanya tadi.
Ngomong-ngomong pria, laki-laki, pagi-pagi begini memang
sedikit. Memang ada dua tiga buruh laki-laki di bagian tertentu. Tapi, tetap
saja sedikit sekali. Palingan, nanti sore pasti sudah banyak tuh di belakang.
Orang-orang ekspedisi sebutannya. Mereka yang ngangkuti roti siap jual ke
truk-truk box di halaman belakang. Dulu pas saya kerja ikut shift, dulu
sebelum di pindah ke tukang bersih-bersih, saya selalu senang. Iya dong, banyak
berondong tampan di sana. Atasan mereka, si mbok versi pria, juga sedap dipandang.
Yah, boleh dibilang jadi angin segar buat kami-kami yang terkurung berjam-jam
di tempat pengap penuh sesama jenis ini.
Eh, (seperti mengingat sesuatu) saya ada satu cerita
lagi. (melirihkan suara) ngomong-ngomong sesama jenis. Ada kisah tentang
sejenis di sini. Sebenarnya rahasia. Antara tukang oven dengan emh, si itu tuh.
(berhenti mengepel karena sudah sampai ujung lain koridor). Di pabrik baru ini
belum banyak orang tahu, karena orang-orangnya juga baru. Tapi, di pabrik dulu
sudah jadi rahasia umum. Di kamera CCTV, terekam mbak-mbak oven yang tomboy itu
sedang ena-ena dengan si itu tuh. Gila. Saya juga lihat. Waktu itu, saya baru
dipindahkan di tukang bersih-bersih. Ingat betul saya. Sungguh canggih kamera
itu. Iya itu seperti di pojok situ. (menunjuk ke atas) ada kamera kan. Iya,
kemalasan saya pasti juga terekam. Berapa menit ini? Wah sudah satu jam saja.
Kalau di mesin suntik, pasti sudah bisa mengisi, emh (berpikir sambil
menghitung dengan jadi) sembilan ribu roti lah kira-kira. Saya nggak pandai
menghitung. Pokok ya segitu itu. Nah, disini saya bisa bebas kerja apa saja.
Palingan lama-lama cuma dipanggil atasan terus dipecat. Hanya begitu saja.