Sabtu, 20 Februari 2016

membuat teks editorial






CERITA DI BALIK INDONESIA, IRONI YANG NYATA
                Pembangunan yang digembor-gemborkan pemerintah nampaknya hanya sekedar omong kosong belaka. Pembangunan yang dilakukan masih menitik beratkan pada kota-kota besar, alhasil daerah-daerah terpencil mengalami kehidupan yang sulit dan jauh dari pembangunan. Jangankan fasilitas-fasilitas yang mempermudah kehidupan mereka seperti alat transportasi, fasilitas penting seperti jalan-pun masih menjadi angan bagi mereka. Meskipun begitu mereka masih menjalani kehidupan mereka yang demikian, kehidupan sebagai warga negara Indonesia yang tertinggal.
                Salah satu kecamatan di pulau Sulawesi yakni Ranti, sangat sulit untuk tiba di tempat itu. Jangankan pembangunan untuk desa-desa di Ranti, jalan akses menuju kesana sangat tidak masuk akal. Masyarakat Ranti yang ingin menjual maupun membeli kebutuhan sehari-hari di Masamba harus menempuh kurang lebih 80 km dengan kendaraan bermotor. Itupun melewati hutan dan jalan-jalan yang tidak masuk akal. Tidak sembarang sepeda motor bisa melewati jalanannya, pun tidak sembarang orang bisa melewatinya. Hanya pengendara yang benar-benar ahli dan sepeda yang telah di modifikasi agar bisa melewati jalanan berbatu menanjak. Yang benar-benar menyita perhatian adalah salah satu jalanan berbatu yang dikanan kirinya merupakan tebing-tebing tinggi mudah terkikis. Lebarnya hanya seukuran lebar satu sepeda motor dan tinggi tanjakannya mencapai 5 meter. Sungguh ironi nyata yang dialami masyarakat Ranti. Awalnya jalan bebatuan tersebut merupakan gunung-gunung kecil yang terus menerus terkikis dan menjadi seperti itu karena sering dilewati serta longsor. Untuk melewatinya satu pengendara sepeda motor dibantu beberapa pengendara lain secara bergantian hingga satu-persatu melewatinya. Betapa sabarnya masyarakat daerah tersebut, hingga saat ini mereka masih menggunakan akses jalan yang sangat jauh dari kemudahan.  
                Seperti di wilayah Indonesia timur, meski tidak seluruh daerah Indonesia timur tertinggal pembangunan namun sebagian besar tentu masih jauh dari kata layak sebagai negara Indonesia merdeka. Mungkin di wilayah Ibukota disana tidak jauh berbeda dengan Ibukota-Ibukota di provinsi lain namun jika dibandingkan, meski sama-sama wilayah Indonesia timur, kehidupan kota dan desa disana jauh berbeda.
                Selain infrastruktur yang benar-benar kurang, di wilayah Indonesia lain yang tertiggal masih sulit ditemukan listrik. Mereka masih menggunakan bantuan pencahayaan dan hal lainnya dari perabotan tradisional. Mereka masih menerapkan kehidupan yang sederhana di tengah berkembangnya arus gelobalisasi. Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau itulah yang mereka miliki. Pemerintah masih menutup mata pada hal-hal penting seperti itu. Bayangkan saja disetiap harinya, anak-anak yang tinggal di daerah tanpa listrik belajar ditemani cahaya lampu minyak. Sedangkan anak-anak kota bisa belajar dimana saja, ditengah gemerlapnya ibukota. Namun demikian keduanya tetap anak-anak Indonesia.
                Belum puas siksa karena listrik yang tidak ada, minimnya akses air bersihpun menjadi hal lain yang menyulitkan masyarakat Indonesia. Kurangnya air bersih nampaknya tidak hanya dirasakan warga di daerah terpencil. Meski didaerah terpencil akses air sangat sulit bahkan harus menempuh berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air. Di daerah Indonesia lain yang tidak jauh dari kota besar pun juga sering kekurangan air. Selain karena musim panas berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan, terkadang warga yang boros air juga yang menyebabkan sulitnya air bersih. Ketidaksadaran diri untuk menghemat SDA yang ada dan menggunakan seperlunya menjadi penyebab lain kurangnya air.
                Hanya sebagaian warga yang kreatif dan peduli yang mampu menciptakan hal yang mempermudah kehidupan masyarakat di daerah tertinggal. Kurangnya perhatian pemerintah membuat warga di daerah terpencil mengkritisi lingkungan di sekitar mereka. Sadar akan kurangya fasilitas yang memadai mereka menciptakan akses untuk mempermudah kehidupan. Seperti menciptakan turbin yang berada di arus sungai yang cukup besar. Ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga listrik sederhana untuk menerangi desa mereka yang tertinggal.
                Tidak hanya terjadi di darat, wilayah Indonesia yang sebagian besar perairan juga menjadi hambatan untuk pembangunan. Akses laut yang tidak menentu membuat penduduk yang tinggal di pulau-pulau terpencil nan jauh dari pulau besar sulit menjamah pulau lain untuk menjalin kerja sama untuk menghidupi mereka. Jikapun ada alat-alat canggih yang dapat mendeteksi dan menembus cuaca apapun macamnya, belum tentu di daerah tersebut menjangkaunya. Terlebih menggunakannya.
                Sekali lagi pemerintah masih berdiam diri. Untuk kesekian kalinya pembangunan yang direncanakan belum terealisasikan. Baik di desa maupun kota, pembangunan yang di gadang-gadang akan dialakukan hanya seperti angin berlalu. Masyarakat telah kenyang akan pil pahit pemberian pemerintah. Terlebih daereh Indonesia yang tertinggal dan jauh dari pembangunan. Kita yang memiliki akses jalan raya terkadang masih mengeluh dengan rusaknya sebagian aspal, padahal selain kualitas infrastruktur itu sendiri, kita-lah yang menggunakannya jadi tanpa kita sadar kita yang merusaknya. Dengan demikian kita yang telah memiliki fasilitas umum yang memadai harus turut menjaga agar pembangunan di Indonesia bisa merata dan menjadikan Indonesia mampu mewujudkan cita-citanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar