CERITA DI BALIK
INDONESIA, IRONI YANG NYATA
Pembangunan
yang digembor-gemborkan pemerintah nampaknya hanya sekedar omong kosong belaka.
Pembangunan yang dilakukan masih menitik beratkan pada kota-kota besar, alhasil
daerah-daerah terpencil mengalami kehidupan yang sulit dan jauh dari
pembangunan. Jangankan fasilitas-fasilitas yang mempermudah kehidupan mereka
seperti alat transportasi, fasilitas penting seperti jalan-pun masih menjadi
angan bagi mereka. Meskipun begitu mereka masih menjalani kehidupan mereka yang
demikian, kehidupan sebagai warga negara Indonesia yang tertinggal.
Salah
satu kecamatan di pulau Sulawesi yakni Ranti, sangat sulit untuk tiba di tempat
itu. Jangankan pembangunan untuk desa-desa di Ranti, jalan akses menuju kesana
sangat tidak masuk akal. Masyarakat Ranti yang ingin menjual maupun membeli
kebutuhan sehari-hari di Masamba harus menempuh kurang lebih 80 km dengan
kendaraan bermotor. Itupun melewati hutan dan jalan-jalan yang tidak masuk
akal. Tidak sembarang sepeda motor bisa melewati jalanannya, pun tidak
sembarang orang bisa melewatinya. Hanya pengendara yang benar-benar ahli dan
sepeda yang telah di modifikasi agar bisa melewati jalanan berbatu menanjak.
Yang benar-benar menyita perhatian adalah salah satu jalanan berbatu yang
dikanan kirinya merupakan tebing-tebing tinggi mudah terkikis. Lebarnya hanya seukuran
lebar satu sepeda motor dan tinggi tanjakannya mencapai 5 meter. Sungguh ironi
nyata yang dialami masyarakat Ranti. Awalnya jalan bebatuan tersebut merupakan
gunung-gunung kecil yang terus menerus terkikis dan menjadi seperti itu karena
sering dilewati serta longsor. Untuk melewatinya satu pengendara sepeda motor
dibantu beberapa pengendara lain secara bergantian hingga satu-persatu
melewatinya. Betapa sabarnya masyarakat daerah tersebut, hingga saat ini mereka
masih menggunakan akses jalan yang sangat jauh dari kemudahan.
Seperti
di wilayah Indonesia timur, meski tidak seluruh daerah Indonesia timur
tertinggal pembangunan namun sebagian besar tentu masih jauh dari kata layak
sebagai negara Indonesia merdeka. Mungkin di wilayah Ibukota disana tidak jauh
berbeda dengan Ibukota-Ibukota di provinsi lain namun jika dibandingkan, meski
sama-sama wilayah Indonesia timur, kehidupan kota dan desa disana jauh berbeda.
Selain
infrastruktur yang benar-benar kurang, di wilayah Indonesia lain yang tertiggal
masih sulit ditemukan listrik. Mereka masih menggunakan bantuan pencahayaan dan
hal lainnya dari perabotan tradisional. Mereka masih menerapkan kehidupan yang
sederhana di tengah berkembangnya arus gelobalisasi. Tidak ada pilihan lain,
mau tidak mau itulah yang mereka miliki. Pemerintah masih menutup mata pada
hal-hal penting seperti itu. Bayangkan saja disetiap harinya, anak-anak yang
tinggal di daerah tanpa listrik belajar ditemani cahaya lampu minyak. Sedangkan
anak-anak kota bisa belajar dimana saja, ditengah gemerlapnya ibukota. Namun
demikian keduanya tetap anak-anak Indonesia.
Belum
puas siksa karena listrik yang tidak ada, minimnya akses air bersihpun menjadi
hal lain yang menyulitkan masyarakat Indonesia. Kurangnya air bersih nampaknya
tidak hanya dirasakan warga di daerah terpencil. Meski didaerah terpencil akses
air sangat sulit bahkan harus menempuh berkilo-kilo meter untuk mendapatkan
air. Di daerah Indonesia lain yang tidak jauh dari kota besar pun juga sering
kekurangan air. Selain karena musim panas berkepanjangan yang menyebabkan
kekeringan, terkadang warga yang boros air juga yang menyebabkan sulitnya air
bersih. Ketidaksadaran diri untuk menghemat SDA yang ada dan menggunakan
seperlunya menjadi penyebab lain kurangnya air.
Hanya
sebagaian warga yang kreatif dan peduli yang mampu menciptakan hal yang
mempermudah kehidupan masyarakat di daerah tertinggal. Kurangnya perhatian
pemerintah membuat warga di daerah terpencil mengkritisi lingkungan di sekitar
mereka. Sadar akan kurangya fasilitas yang memadai mereka menciptakan akses
untuk mempermudah kehidupan. Seperti menciptakan turbin yang berada di arus
sungai yang cukup besar. Ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga listrik
sederhana untuk menerangi desa mereka yang tertinggal.
Tidak
hanya terjadi di darat, wilayah Indonesia yang sebagian besar perairan juga
menjadi hambatan untuk pembangunan. Akses laut yang tidak menentu membuat
penduduk yang tinggal di pulau-pulau terpencil nan jauh dari pulau besar sulit menjamah
pulau lain untuk menjalin kerja sama untuk menghidupi mereka. Jikapun ada
alat-alat canggih yang dapat mendeteksi dan menembus cuaca apapun macamnya,
belum tentu di daerah tersebut menjangkaunya. Terlebih menggunakannya.
Sekali
lagi pemerintah masih berdiam diri. Untuk kesekian kalinya pembangunan yang
direncanakan belum terealisasikan. Baik di desa maupun kota, pembangunan yang
di gadang-gadang akan dialakukan hanya seperti angin berlalu. Masyarakat telah
kenyang akan pil pahit pemberian pemerintah. Terlebih daereh Indonesia yang
tertinggal dan jauh dari pembangunan. Kita yang memiliki akses jalan raya
terkadang masih mengeluh dengan rusaknya sebagian aspal, padahal selain
kualitas infrastruktur itu sendiri, kita-lah yang menggunakannya jadi tanpa
kita sadar kita yang merusaknya. Dengan demikian kita yang telah memiliki
fasilitas umum yang memadai harus turut menjaga agar pembangunan di Indonesia
bisa merata dan menjadikan Indonesia mampu mewujudkan cita-citanya.