Rabu, 23 Juni 2021

Eduard Douwes Dekker dan Fakta-Fakta Max Havelaar

Eduard Doues Dekker, mantan Assisten Lebak pada Abad 19,adalah nama asli dari penulis novel Max Havelaar. Eduard Doues Dekker menggunakan nama pena Multatuli dalam novelnya tersebut.

Dalam resensi buku Max Havelaar oleh Iskandar Zulkanain yang dimuat di kompasiana, buku tersebut menceritakan tentang seorang yang terlihat kumuh memakai syal, seterusnya disebut dengan Sjaalman. Sjaalman bertemu dengan seorang makelar kopi kaya di Amsterdam bernama Batavus Droogstoppel. Sesungguhnya, Sjaalman yang terlihat kumuh, dan baru datang dari “negri timur” bukanlah orang yang benar-benar asing bagi Batavus Droogstoppel. Dia adalah teman lama, semasa kecil yang dulu pernah menanamkan “budi” pada Batavus Droogstoppel.

Menemukan tulisan Sjaalman yang berbicara banyak tentang kopi, Batavus Droogstoppel bersedia untuk mempublikasikan tulisan-tulisan Sjaalman, dengan perhitungan bahwa pembahasan tentang kopi, tentu akan memberikan keuntungan yang tidak kecil bagi usaha yang sedang dijalankan. Namun, dalam perkembangannya selanjutnya, dalam tumpukan artikel-artikel yang membahas tentang kopi, Batavus Droogstoppel menemukan cerita tentang kekejaman yang diakibatkan oleh penerapan sistem tanam paksa yang dilakukan oleh kolonial Belanda di tanah jajahannya. Sistem tanam paksa akhirnya menyebabkan ribuan penduduk pribumi dijerat kemiskinan, kelaparan dan menderita.

Cerita tentang kemiskinan, kelaparan dan penderitaan kaum pribumi di Max Havelaar, menyebabkan kegaduhan dan mengguncang hebat sendi-sendi pemerintahan Hindia Belanda. Akibatnya, untuk menebus kesalahan itu, Belanda menerapkan Politik Etis. Politik Balas Budi. Dengan cara memperbolehkan kaum pribumi untuk memperoleh pendidikan. Yang awalnya, Belanda melakukan itu, dengan dua tujuan. Tujuan yang nampak diluar adalah seolah-olah menembus kesalahan atas Politik Tanam Paksa yang dilakukan. Namun, dibalik itu, tujuan tersembunyinya, untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga administrasi tingkat rendah. yang idealnya tidak perlu dilakukan oleh “orang Belanda”. Namun, cukup dilakukan oleh tenaga pribumi yang telah “disekolahkan”.

Tapi, dari tenaga-tenaga terdidik rendahan inilah, lahir kelas golongan terpelajar, yang keturunan mereka memiliki jenjang pendidikan lebih baik dan memiliki kesadaran akan keberadaan mereka, sehingga melahirkan kesadaran akan kemerdekaan. Semua fenomena itu, terjadi, ghalibnya karena pengaruh kehadiran Max Havelaar yang menyentuh “rasa” pembacanya sejak diterbitkan pada tahun 1860.

Helvry Sinaga menuliskan pemikirannya tentang Max Havelaar dalam blog pribadi miliknya (http://blogbukuhelvry.blogspot.com/2012/08/max-havelaar.html). Dalam tulisannya tersebut ia menulis tentang latar belakang terciptanya novel Max Havelaar, keadaan sosial saat itu, serta sudut pandang penceritaannya.

Awal mula permasalahan yang melatar belakangi adalah terjadinya perang besar di pulau Jawa. Perang yang dimenangkan oleh pihak Belanda masih menyisakan beban bagi rakyat Indonesia karena Belanda kehilangan banyak kas untuk membiayai perang. Karena itulah Belanda menerapkan sistim tanam paksa atau cultuursteslsel.

Dalam latar belakang yang ditulis oleh Helvry, ia menuliskan detail teknis cara kerja yang terjadi saat itu. Ia juga menuliskan tentang keganjalan yang terjadi mengapa tanam paksa tersebut sangat memberatkan rakyat Indonesia. Sebenarnya, sudah sangat jelas jika kata tanam paksa adalah hal yang sangat membuat rakyat menderita, namun Helvry menuliskan keterangan-keterangan yang nyata secara logis dari novel Max Havelar.

Pengusaha Cina dan pejabat pribumi juga sedikit disinggung. Karena pada kenyataannya, mereka menikmati keuntungan yang sangat besar karena tidak hanya menerima persentasi hasil namun juga memiliki tanah jabatan (Ricklefs). Meski keuntungan saat itu besar, namun karena lingkungan yang terus dikeruk berakibat pada paceklik yang kemudian muncul. Tanaman yang ditanampun kemudian berganti-ganti hingga yang terakhir ditanam adalah komoditas kopi.

Beralih pada keadaan sosial, Henvry lebih menuliskan akibat yang ditimbulkan oleh tanam paksa. Akibat yang dimaksudkan seperti fungsi-fungsi kepala daerah seperti Kepala Desa sebagai penghubung antara petani dan pejabat yang puncaknya adalah bupati. Bupati adalah bangsawan yang mengepalai kabupaten dan bertanggung jawab pada pemerintahan Belanda. Pejabat Belanda di suatu kabupaten ditugasi untuk mengurus penerimaan pajak dari masyarakat petani. Dari sana muncul permasalahan korupsi. Kepala daerah tersebut dibayar sesuai dengan persentase penyerahan komoditi pertanian. Komoditi ekspor yang menjadi hak pemerintah dihargai terlalu rendah. Perdagangan komoditi ekspor di jalur swasta meningkat, dan terjadi pemerasan terhadap desa-desa. Korupsi merajalela dan pemerintah pusat di Batavia tidak mampu memantau hal tersebut ke seluruh daerah.

Menurut teks yang ditulis Henvry, dirinya mampu memahami keadaan saat itu berdasarkan penceritaan yang ada dalam novel yang dibacanya. Tokoh, perwatakan dan berbagai hal tentang seluk beluk kepenulisan cerita juga disinggung. Hal itu mungkin saja terjadi mengingat sulit menemui novel Max Havelaar dengan teks yang mudah dipahami karena bahasa asli novel tersebut merupakan bahasa asing.

Karena keadaan sosial yang didapatkan dari imajinasi dalam novel, tidak ditemukan teori-teori seperti struktur genetik yang disampaikan. Meskipun begitu dalam penulisannya masih menyisipkan alur cerita yang bisa dikotak-kotakkan sendiri oleh pembaca tentang relasi yang terdapat dalam novel.

Poin ketiga adalah sudut pandang pencerita dalam novel. Henvry mengambil kalimat “Tiga Pencerita” untuk sub judulnya. Sub judul ini dirasa kurang tepat untuk digunakan karena berkesan tidak seperti judul yang menggiring pemikiran pembaca pada sudut pandang pencerita melainkan langsung menjadi jawban yang tidak menarik.

Tiga pencerita yang dimaksudkan Henvry adalah Droogstoppel sebagai narrator pertama, kedua adalah Stern, dan ketiga adalah Multatuli. Perpindahan antarnarator (menurut Henry) dapat dibedakan pada konteks ceritanya. Droogstoppel bercerita tentang seputar perusahaan makelar kopi dan bursa perdagangan, Stern bercerita tentang Havelaar, sementara Multatuli muncul pada bagian penutup cerita.
Seperti pada keadaan sosial, henvry menjelaskan tentang penyudutpandangan dengan detail. Bahkan dia menyertakan kutipan-kutipan dalam novel untuk memperkuat tulisannya. Sekali lagi, teks yang muncul masih terkait pada alur cerita yang terjadi pada saat itu. Fakta-fakta pada zaman itu tak bisa lepas dari teks yang ada pada tulisan Henry. Namun demikian, detail yang apik menjadi daya tarik dari tulisan ini.

Yang menjadi sorotan dalam tulisan tersebut Helvry Sinaga menyertakan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari novel tersebut. Pertanyaan pertama sekaligus menjadi kritik yakni tentang sumpah jabatan. Ketika diangkat menjadi asisten residen, Havelaar diminta mengucapkan sumpah bahwa akan mematuhi dan menegakkan peraturan dan undang-undang yang ada. Dan yang terpenting: akan melindungi penduduk Bumiputera terhadap penindasan, penyiksaan, dan penganiayaan. Apakah demikian yang dilakukan pejabat pemerintahan sekarang yang membela kepentingan rakyat kecil di atas kedudukannya?

Kedua, (menurut Henry) ia menegaskan apa panggilan bekerja. Ketika Max Havelaar memimpin rapat setelah ia dilantik maupun dalam surat-suratnya ia memberi pandangan apa peranan sebagai pekerja pemerintah :

Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam. Dan jiwa manusia bukan tumbuh karena upah, tapi karena kerja yang membikin ia berhak untuk menerima upah.


Dan apa jawab kita, kalau sesudah kita mati, ada suara menegur roh kita dan bertanya: "mengapa orang meratap di ladang-ladang, dan mengapa pemuda-pemuda menyembumyikan diri? Siapa yang mengambil panen dari lumbung dan menteret kerbau yang akan membahak ladang dari kandang? Apa yang telah klau lakukan dengan saudaramyu yang kuserahkan penjagaannya kepadamu? Mengapa si celaka itu bersedih hati dan mengutuk kesuburan istrinya? (h.69)

Adakah yang lebih tinggi dari kebahagiaan? Maka bukankah kewajiban kita untuk membahagiakan manusia? Dan jika untuk itu diperlukan kerja, bolehkah kita melarang orang Jawa bekerja, pekerjaan yang yang diperlukan untuk kebahagiaan jiwanya, supaya nanti tidak akan dibakar dalam api neraka (h.88)

..supaya anda tinggalkan sikap takut-takut dan tampil dengan berani memperjhuangkan sesuatu kepentingan (h.145)

dan ucapan ini ditujukan bukan terutama pada anda, tetapi kepada sekolah di mana anda dididik menjadi pegawai negeri Hindia (h.145). Hendaklah kata yang mulia itu terbukti dengan cara lain, dari sekedar gelar yang membosankan itu, gelar yang mengganggu arti kalimat. 

Selanjutnya,(menurut Henry) muncul pertanyaan mengenai kritik pengangkatan gubernur jenderal. Multatuli mempersoalkan pengangkatan gubernur jenderal. Menurutnya, orang yang diangkat menjadi gubernur jenderal seharusnya selain cakap adalah seorang yang cukup punya pengalaman memimpin, mengingat permasalahan di Hindia sangat kompleks. Persoalan kesetiaan dan kejujuran menjadi poin penting. Dari cerita Multatuli ini juga dapat diketahui bahwa praktik korupsi sudah berlangsung dari sejak dulu. Gedung-gedung pemerintahan yang dibangun seringkali tidak berdasarkan anggaran biaya yang telah disusun, tetapi menggunakan tenaga kerja paksa yang tidak dibayar.

Terakhir, mengkritik gaya hidup saleh? Multatuli mengkritisi apakah benar pandangan orang Belanda, bahwa mereka adalah golongan Eropa terpilih yang mendapat berkat Tuhan, berbeda dengan Prancis yang terjadi bunuh-bunuhan. Sementara orang Belanda berdiam di negeri jauh, Orang Jawa yang digambarkan kafir malah menghasilkan kekayaan bagi mereka (h.159)

Dari sudut pandang orang Belanda yang di negeri Belanda apakah kalimat: orang harus bekerja keras, dan siapa yang tidak mau, adalah miskin dan tetap tinggal miskin, dengan sendirinya (h.162) tetap relevan terlaksana di tanah jajahan

Kembali ke resensi yang ditulis Iskandar Zulkanain sebagai sebuah buku novel, cerita yang dirajut oleh Multatuli sungguh menarik. Namun, apa yang diceritakan oleh Multatuli diakui sebagai sebuah fakta yang benar-benar terjadi. Untuk itu Multatuli bahkan berani menantang pemerintah kolonial Belanda untuk membuktikan kekeliruan atas data-data yang dibeberkannya dalam Max Havelaar.

Pada Kongres Internasional untuk pengembangan Ilmu Pengetahuan Sosial di Amsterdam pada 1863, Multatuli menantang saudara-saudara sebangsanya untuk membuktikan kesalahannya. Dan hingga kini, tantangan yang dilontarkan Multatuli, tak pernah diterima oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk diberikan pembuktian.

Mr. Veth orientalis terkenal di Leyden yang secara khusus mempelajari masalah-masalah Hindia, menyatakan bahwa Multatuli memperhalus kebenaran. Dia mengatakan bahwa banyak penulis, misalnya Mr. Vitalis dan lain-lain, telah menerbitkan laporan peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta yang jauh lebih mengejutkan daripada yang digambarkan oleh Multatuli. Mr. Veth memuji kemoderatan Multatuli, dan mengatakan, bahwa lelaki itu (Multatuli) telah menunjukkan kemahiran dengan tidak melebih-lebihkan kisahnya.

Itulah Max Havelaar, buku yang ditulis oleh Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887) sebagai wujud dari pemberontakan jiwanya, atas apa yang dilihatnya selama 18 tahun dalam kariernya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. Multatuli kemudian mengasingkan diri ke Wiesbaden Jerman dan meninggal pada Februari 1887.

16/10/18

Kamis, 18 Juni 2020

Sebuah Monolog



SATU JAM DI PAGI HARI

(JAM ENAM PAGI DI PABRIK ROTI. DENGAN SERAGAM KERJA DAN SERBET TERSAMPIR DI BAHUNYA, SUPIYEM BERJALAN KE SUDUT PABRIK TEMPAT ALAT-ALAT KEBERSIHAN. KEMUDIAN IA MENGGERET TROLI KUNING BERKARAT DENGAN SEMBURAT WARNA MERAH DI PEGANGANNYA. TAK LUPA SUPIYAH MENGISI DUA TIMBA BESAR YANG SUDAH METENGKRENG DI ATAS TROLI DENGAN AIR KERAN. DUA BUAH PEL JUGA SUDAH BERDIRI SALING BERTUBRUKAN DI SALAH SATU TIMBA. SEPERTI BIASA, IA MENGOMEL SEPANJANG PERJALANAN MENUJU KARIDOR PABRIK YANG LUAS. SUPIYEM MELETAKKAN TROLI DI SISI KORIDOR DAN BURU-BURU MENGAMBIL SAPU DAN CIKRAK.)
SUPIYEM : Gini nih kerjaannya babu. Ditinggal ngambil sapu bentar, kalau ketahuan ada troli di sini bakal kena marah saya. Padahal kan ini memang wilayah saya. Saya jadi tukang bersih-bersih, ya wajar dong kalau troli masih di sini selagi saya ambil sapu. Ibu bos paling-paling bilang, (merubah suara jadi cempreng) Bu Yem, jangan taruh troli di jalan, apalagi ada airnya. Terus itu, bannya kotor, sudah saya bilang kan yang boleh lewat koridor ini yang bannya bersih.
Ya saya kan sudah mikir (merubah suara menjadi normal). Nggak mungkin saya bawa troli kotor ke koridor kramik ini. Kalau kotor yang susah kan saya juga. Lagian, si tukang cuci-cuci itu sudah setiap hari kuomeli untuk mencuci troli. Nyatanya, waktu mereka habis buat cuci loyang-loyang roti. Belum keranjang-keranjang buat ngebal, ngirim roti ke seles, nggak mikir itu para mbok-mbok. Itu tukang cuci-cuci cuma ada tiga orang, dua di siang satu di malam, digilir terus. Terus aja gitu, padahal yang satu sudah sepuh. Umurnya saja sudah seumuran ibu saya. Bahkan, yang paling muda di tukang cuci-cuci itu kakak kelas SD saya. Kenal saya orangnya. Dia itu yang ngajak kerja disini ya saya. (Supiyem mulai meyapu).
Dulu tempat ini nggak sesuram ini. Pegawai nggak harus pake sepatu karet putih begini. Sakit tahu, jalan kesana kemari pake sepatu beginian. Celemek kotor harusnya wajar, kita kerja. Sekarang apa-apanya kotor dikit kena marah. Dulu nggak apa-apa. Sekarang? Ada jelemberetan selai saja sudah diomeli. Kurangi poin sama dengan kurangi gaji. Kerjaan disini berat. Ya oles selai, ya gotong roti, gosoking mesin, dorong troli, buka-tutup oven raksasa, bikin adonan. Pada nggak mikir mereka. Itu-itu, si mbok-mbok berciput hijau. Ya, mereka dulu ya kayak kami. Sama-sama babu, buruh. Dulu ciput mereka ya merah muda gini, sama kayak ratusan orang disini, kayak punya saya. Tapi, semenjak mereka diangkat jadi mbok, penyakit manusiawi mereka muncul. Otoriter. Eh, apa ya otoriter? Nggak tahu apa, yang jelas karyawan-karyawan baru lulusan SMK itu sering bilang gitu. Otoriter. Iya, iya, anak SMK. Sekarang yang boleh daftar cuma lulusan SMK. Di bawah itu, ditolak katanya. Nggak tahu kenapa, yang jelas tujuh tahun yang lalu enggak. Saya yang nggak lulus SD saja bisa kerja disini. Itu si tukang cuci-cuci semua pada nggak sekolah juga, ya cuma kakak kelas saya itu. Tapi, juga sama-sama nggak lulus SD. Dan, sekarang harus lulusan SMK? Bener-bener seret ini pabrik.
Mungkin mau bangkrut kali ya? Tapi, kenapa produksinya semakin banyak saja. Tahu nggak, kalo produksi banyak gitu kita jadi tertekan. Para buruh yang kecekik. Bahkan itu buruh borongan yang duitnya deres pas banyak roti pada ngeluh. Nggak punya libur. Badan pegel semua. Shift yang biasanya dibagi tiga jadi cuma dua. Separuh hari mereka berdiri tegang di tempat bising yang menekan. Lalu, apa kabar buruh hariannya? Mereka yang dibayar segitu-gitu aja sehari. Banyak atau dikit roti yang mereka kerjakan nggak akan menambah upah mereka kecuali lembur. Lembur pun malah semakin menekan mereka. Ya kali, kerja jungkir balik kejar target yang gak masuk akal cuma dapat empat ribu satu jamnya. Kalo saya jadi mereka ogah! Gilanya, gilaku juga gila mereka, kadang tukang bersih-bersih macam saya ini dibawa-bawa. Okelah saya memang berpengalaman disini. Mulai dari buat adonan, ngoven, sampai packing saya mahfuz. Tapi, bukannya itu mengganggu pekerjaan utama yang sangat penting ini? Gila kan? (rontokan sampah dimasukkan ke kantong sampah).
Ini lagi sampah! Anak-anak shift malam nggak pernah bener. Kayak apa sih kerja mereka? Kenapa setiap pagi selalu kotor begini? Pantas saja, ‘kan para mbok di shift malam nggak begitu banyak. Lagi pula, Ibu bos nggak setiap saat muncul pas tengah malam kan? Eh iya, (Supiyem teringat sesuatu) dulu kan pernah jam sebelas malem ibu bos tiba-tiba muncul di tempat packing. Ya, saat itu saya dipaksa lembur sama mbok kecil yang umurnya sebaya anak saya. Waktu itu saya mau saja, anak saya yang sebaya dia itu pengen kawin, saya harus punya duit lebih. Bagai setan, saat itu dia tiba-tiba muncul di sebelah mesin conveyor. Saya kaget, teman-teman saya apalagi. Saya hanya tersenyum lalu mulai berceloteh saat itu. Haha (tertawa menyeringai) kalau saya berucap, teman-teman tidak ada yang berani menyangkal. Lihat saja tubuh timbun ini, (memamerkan tubuh) mereka pasti takut. Jadi, saya karang-karang saja cerita. Intinya, saya membanggakan diri di depan ibu bos. Saya nggak takut sama ibu bos. Dia mungkin yang takut sama saya.
(DARI BELOKAN UJUNG KORIDOR TERDENGAR SUARA DERAP LANGKAH HAK SEPATU WANITA)
SUPIYEM : Waduh ibu bos. (mengambil pel dan berjalan ke ujung lain koridor, fokus mengepel) jangan sampai dia mengomel pagi-pagi. Ah, dia jarang ngomel di pagi hari sih. Paling nanti pas istirahat makan siang ngomelnya. Ah, (Supiyem memunggungi arah datangnya suara. Ketika lebih dekat ia sedikit mengintip. Bayangan wanita tinggi langsing terlihat.) Ah, ternyata Mbak Dayu. (menghentikan kerja dan mengelus dada) Gitu ya kalau sekolah tinggi. Bisa kerja bersih. Nggak pernah pegang sapu sama pel. Rambut digerai nggak karuan. Eh, bukannya harus pake ciput kalau masuk pabrik. Ah, sudahlah. Mereka punya seribu alasan. Otoriter. Nyawa kami ada di tangan dia, HRD muda pindahan dari Bandung.
(meneruskan mengepel) Lantai putih gini bisa jadi coklat. Bener-bener buat kerjaan saya jadi berat saja. Ini masih koridor, tempat sempit begini. Belum itu tempat bongkar barang. Ya gini-gini ini yang beresin. Orang-orang malam nggak akan tuntasin kerja, wong mulainya aja nanggung. Duh, sepertinya pabrik beneran mau bangkrut. Mekanisme pegawai sama jam kerja aja nggak teratur. Kasihan.
Haduh, kok ada selai jatuh segala. Hijau? Oh iya, pabrik baru buat produk baru lagi. Roti isi selai kiwi. Aduh, mana lengket lagi di lantai. (geram) awas saja kalau yang jatuhin ini ketemu.
SUPIYEM : Hayo, siapa yang semalam numpahin selai ke lantai koridor? (BERTERIAK KE SALAH SATU SUDUT KORIDOR YANG MENUJU KE DALAM PABRIK) Awas sampai ketemu! Tumpahan selai kiwi sulit dibersihin goblok! Tahu nggak, coklat saja sulit. Tahu nggak, kiwi lebih mahal. Lebih mahal dari coklat. Rugi perusahaan ini. Bangkrut bisa-bisa. Kita bakal di-PHK. Nganggur semua. Ratusan orang ini bakal nganggur, tahu! Kerja yang bener.
(KARYAWAN LAIN TAK MENGHIRAUKAN TERLEBIH YANG DEKAT DENGAN MESIN-MESIN BESAR, BISING.)
            SUPIYEM : Dikira gila saya. Dasar orang-orang nggak tahu terimakasih. Kalo nggak ada saya, nggak kira bersih ini tempat. (GLOTAK-GLOTAK) Eh, Ibu Bos. Sudah datang rupanya. (sedikit menunduk). Ini buk, ada anak yang numpahin selai semalem. Rugi kan, Bu. Kotor lagi. Tenang, Bu, nanti saya bereskan. (BOS HANYA LEWAT DENGAN TAK ACUH DIIKUTI GERAKAN TANGAN SUPIYEM YANG BERNIAT MELEMPAR PEL) Dasar nenek sihir. Ah, masih tua saya rupanya. Dasar penyihir. Eh, dasar bos, emh, (berpikir). Ah, (putus asa dan kembali berkerja) untung cuma lewat ya. Ah, untung. Benar. Andai berhenti dan melotot seperti biasanya akan kusiram dengan air pel ini. (menoleh ke troli) ah, benar. Saya kan pakai troli yang ada merah-merahnya ini. Persetan dengan roda kotor, asal pegangannya berwarna merah aku aman. Bos goblok! Menilai pekerjaan karyawan, dari luarnya saja. Pantas pabrik ini mau ditutup. Aduh, tapi kasihan anak-anak baru itu. Aduh, masih kecil-kecil pula. Baru lulus SMK, baru ngerasain aroma duit. Belum juga sengsara dalam kerja bakal turut di PHK. Ah. Kasihan. Masa bakal dipecat? Hmmm, biarlah aku dengan pekerjaanku. (SUPIYEM MULAI MENGEPEL DARI UJUNG KORIDOR)
            SUPIYEM : (MENDONGAK KE ARAH PINTU KAMAR MANDI) Tahu tidak, kamar mandi-kamar mandi itu, pintunya pada baru semua. Ya, pabrik ini memang baru, sih. Baru setahun kalau tidak salah. Dulu pabrik yang lama memang kecil dan kotor, tapi enak, aturan-aturannya gak ribet. Asal produksi, sudah. Sekarang ribet. Kamar mandi saja harus bersih banget. Steril katanya. Ada sabun di setiap sudut tempat yang ada air. Mencuri dengar dari gosipan para mbok, satu pintu itu harganya delapan juta! Gila tidak? Bisa buat beli motor impian anakku satu pintunya saja. Percaya? Awalnya aku juga tidak percaya. Sampai beberapa waktu yang lalu ada sebuah kejadian. Namanya Maimunah, janda kembang yang hidup sendirian. Dia kepergok menutup pintu kamar mandi dengan keras. Sialnya dia, bu bos ada di sana saat itu. Sebuah kepastian jika dia mendapat plototan dan kata-kata kasar. Tapi, ternyata tidak berhenti di situ. Kalian tahu, besoknya dia dipanggil dan mendapat surat scorsing. Saya nggak tahu betul berapa lama. Sepertinya sudah lebih dari tiga pekan. Nggak ngitung pastinya sih, dengar-dengar sebulan, gitu. Gila kan ya ini pabrik? Untung si Maimunah nggak punya anak atau orang tua yang musti dihidupin. Ya, paling-paling dia kelaparan selama satu bulan. Eh, nggak tahu juga sih. Tapi tapi, yang lebih kasihan lagi itu pas dia sudah masuk lagi. Tahu tidak apa yang terjadi? Dia dipindah kerjakan ke bagian bongkar-bongkar. Bukan apa-apa sih, disana nggak enak. Waktu kerjanya sangat nggak teratur. Pokok ada roti kering ya masuk, kalo pas masuk belum matang ya nunggu, kalo banyak ya lembur. Dan gaji sama. Satu hal lain yang tidak menyenangkan kerja di bongkar, dia sendiri. Seperti terasing. Ya, kayak saya ini. Terasing. Kerja sendiri. Nggak punya tim kayak tim packing, cream, oven atau forming. Sendiri. Kerja sendiri. Untung saya banyak omong. Nggak hanya jadi patung yang bisa gerak. Bisa ngomel sana, ngomel sini. Nah, Maimunah, kalo nggak disenggol gak gerak. Kalo nggak diajak ngomong, ya nggak ngomong. Aku ragu sih kalau alasan pemindahan Maimunah cuma gara-gara pintu. Mungkin itu hanya alasan membuang orang-orang goblok.
            Sedikit bergosip, Maimunah dianggap paling lamban berpikir oleh timnya selama ini. Ya, dia sudah lama kerja di sini. Pernah di berbagai divisi, seperti saya dulu. Dan paling sulit diajak koordinasi dan komunikasi. Maklum nggak lulus SD. Eh, saya nggak bodoh kayak dia yang pasti. Tapi saya penasaran juga, orang kayak Maimunah ternyata pernah jadi TKW. Seperti kebanyakan buruh-buruh di pabrik ini yang ex-luar negeri, Maimunah pernah ke Arab Saudi. Selalu jika mengobrol dengannya ujung-ujungnya bicara Arab. Ya Mekah, ya apalah itu. Saya nggak tahu tentang Arab. Saya pun di sini dianggap lulusan luar negeri. Padahal selama ini saya bercanda (MELIRIHKAN SUARA) bohong gitu. Mereka percaya saja. (MENGGELENG-GELENG) kalian tahu betapa sulitnya mencari kerja. TKW saja sulit, apalagi yang lain. Untung saya dulu masih diterima di tempat ini. Maka dari itu, saya penasaran bagaimana orang seperti Maimunah itu bisa kerja ke luar negeri. Atau jangan-jangan selama ini Maimunah bohong, (MELIRIHKAN SUARA) seperti saya. Atau jangan-jangan semua orang di sini berbohong.
            Hampir semua buruh lulusan luar negeri, hahaha (tertawa). Kalau tidak, ya emak-emak macam saya. Kalau nggak lagi, palingan anak bau kencur yang harus cari duit. Iya, sebelum ada aturan-aturan njelimet itu, anak di bawah umur lulusan apapun boleh ikut kerja. Ada yang dulu ikut kerja di sini pas umurnya belum genap lima belas tahun. Kaget dong saya. Anak saya pas umur segitu masih disuapin. Nah ini bocah udah kerja aja. Tuntutan ekonomi katanya. Ibunya yang sakit-sakitan baru meninggal. Adiknya juga butuh duit buat nerusin sekolah SMP. Bapaknya nggak tahu kemana, dari kecil dia nggak pernah ketemu katanya. Kasihan.
Ya sudah, disini beragam usia ada. Mau yang perawan kinyis-kinyis macam bocah tadi ada. Yang ranum macam para lulusan SMK ada, janda-janda kembang banyak. Janda bohai apalagi. Emak-emak jadi mayoritas. Tapi, yang perkasa macam saya, ya hanya saya ini. Yang ngomongnya banyak ya saya ini.
Eh, jangan kira pegawai disini wanita-wanita ya, di sini juga ada prianya loh. Mas-mas tukang mekanik itu contohnya. Semua mekanik di sini pria. Sebutan kerennya apa ya? Kok lupa saya. (berhenti sejenak dan berpikir). Oh, enginer. Iya, itu bahasa asingnya. Ya, kerjaannya mas-mas itu benerin mesin-mesin yang mogok atau ada gimana-gimana pas beroperasi. Hm, kalau ditanya seberapa sering mas-mas itu ada di mesin, sering banget. Mesin conveyor saja yang sangat sederhana sering sekali eror. Itu tuh, mesin yang gerak terus nggak berhenti-berhenti kayak tangga berjalan di mall. Gini-gini saya pernah ke mall (memukul-mukul dada sombong). Eh, ngomongin conveyor ya? Iya mesin conveyor itu sering nyelip gitu jalannya. Jadi roti-roti yang sudah di packing kadang kabur-kabur. Itu paling ya, salah satu tanda-tanda pabrik ini mau gulung tikar. Uh, apalagi mesin packingnya. Parah deh (menggeleng-geleng). Masak ya, yang tidak lolos packing buanyak banget. Saya ini sering bantuin orang belakang ngitung wes (plastik rusak hasil packing). Uluh, rugi banyak deh gara-gara mesin packing yang jelek itu. Itu padahal sudah dibawah pengawasan dan bantuan langsung mas-mas mekanik. Gimana kalau tidak? Bakal rugi besar. Itu, baru segelintir mesin. Ada yang namanya mesin suntik, gunanya buat isi cream atau selai. Dan ih, sering juga mogok. Banyak yang gak keluar selainya. Ancur deh. Belum lagi oven. Denger-denger ada oven yang sering gosong. Entah orangnya entah ovennya yang eror. Belum lagi mesin-mesin di bagian forming. Itu, yang main-main adonan. Ah, pokoknya banyak deh. Dan tahu tidak, setiap shif cuma ada dua mekanik. Dua! (menunjukkan dua jari) dua! Cuma dua! Jadilah para laki-laki itu jadi rebutan di banyak divisi. Eh, tunggu-tunggu, kalau mau bangkrut, kok saya lihat ada satu mesin packing sekaligus dua conveyor di luar tadi ya. Saya belum sempat tanya-tanya tadi.
Ngomong-ngomong pria, laki-laki, pagi-pagi begini memang sedikit. Memang ada dua tiga buruh laki-laki di bagian tertentu. Tapi, tetap saja sedikit sekali. Palingan, nanti sore pasti sudah banyak tuh di belakang. Orang-orang ekspedisi sebutannya. Mereka yang ngangkuti roti siap jual ke truk-truk box di halaman belakang. Dulu pas saya kerja ikut shift, dulu sebelum di pindah ke tukang bersih-bersih, saya selalu senang. Iya dong, banyak berondong tampan di sana. Atasan mereka, si mbok versi pria, juga sedap dipandang. Yah, boleh dibilang jadi angin segar buat kami-kami yang terkurung berjam-jam di tempat pengap penuh sesama jenis ini.
Eh, (seperti mengingat sesuatu) saya ada satu cerita lagi. (melirihkan suara) ngomong-ngomong sesama jenis. Ada kisah tentang sejenis di sini. Sebenarnya rahasia. Antara tukang oven dengan emh, si itu tuh. (berhenti mengepel karena sudah sampai ujung lain koridor). Di pabrik baru ini belum banyak orang tahu, karena orang-orangnya juga baru. Tapi, di pabrik dulu sudah jadi rahasia umum. Di kamera CCTV, terekam mbak-mbak oven yang tomboy itu sedang ena-ena dengan si itu tuh. Gila. Saya juga lihat. Waktu itu, saya baru dipindahkan di tukang bersih-bersih. Ingat betul saya. Sungguh canggih kamera itu. Iya itu seperti di pojok situ. (menunjuk ke atas) ada kamera kan. Iya, kemalasan saya pasti juga terekam. Berapa menit ini? Wah sudah satu jam saja. Kalau di mesin suntik, pasti sudah bisa mengisi, emh (berpikir sambil menghitung dengan jadi) sembilan ribu roti lah kira-kira. Saya nggak pandai menghitung. Pokok ya segitu itu. Nah, disini saya bisa bebas kerja apa saja. Palingan lama-lama cuma dipanggil atasan terus dipecat. Hanya begitu saja.
   


Sabtu, 20 Februari 2016

membuat teks editorial






CERITA DI BALIK INDONESIA, IRONI YANG NYATA
                Pembangunan yang digembor-gemborkan pemerintah nampaknya hanya sekedar omong kosong belaka. Pembangunan yang dilakukan masih menitik beratkan pada kota-kota besar, alhasil daerah-daerah terpencil mengalami kehidupan yang sulit dan jauh dari pembangunan. Jangankan fasilitas-fasilitas yang mempermudah kehidupan mereka seperti alat transportasi, fasilitas penting seperti jalan-pun masih menjadi angan bagi mereka. Meskipun begitu mereka masih menjalani kehidupan mereka yang demikian, kehidupan sebagai warga negara Indonesia yang tertinggal.
                Salah satu kecamatan di pulau Sulawesi yakni Ranti, sangat sulit untuk tiba di tempat itu. Jangankan pembangunan untuk desa-desa di Ranti, jalan akses menuju kesana sangat tidak masuk akal. Masyarakat Ranti yang ingin menjual maupun membeli kebutuhan sehari-hari di Masamba harus menempuh kurang lebih 80 km dengan kendaraan bermotor. Itupun melewati hutan dan jalan-jalan yang tidak masuk akal. Tidak sembarang sepeda motor bisa melewati jalanannya, pun tidak sembarang orang bisa melewatinya. Hanya pengendara yang benar-benar ahli dan sepeda yang telah di modifikasi agar bisa melewati jalanan berbatu menanjak. Yang benar-benar menyita perhatian adalah salah satu jalanan berbatu yang dikanan kirinya merupakan tebing-tebing tinggi mudah terkikis. Lebarnya hanya seukuran lebar satu sepeda motor dan tinggi tanjakannya mencapai 5 meter. Sungguh ironi nyata yang dialami masyarakat Ranti. Awalnya jalan bebatuan tersebut merupakan gunung-gunung kecil yang terus menerus terkikis dan menjadi seperti itu karena sering dilewati serta longsor. Untuk melewatinya satu pengendara sepeda motor dibantu beberapa pengendara lain secara bergantian hingga satu-persatu melewatinya. Betapa sabarnya masyarakat daerah tersebut, hingga saat ini mereka masih menggunakan akses jalan yang sangat jauh dari kemudahan.  
                Seperti di wilayah Indonesia timur, meski tidak seluruh daerah Indonesia timur tertinggal pembangunan namun sebagian besar tentu masih jauh dari kata layak sebagai negara Indonesia merdeka. Mungkin di wilayah Ibukota disana tidak jauh berbeda dengan Ibukota-Ibukota di provinsi lain namun jika dibandingkan, meski sama-sama wilayah Indonesia timur, kehidupan kota dan desa disana jauh berbeda.
                Selain infrastruktur yang benar-benar kurang, di wilayah Indonesia lain yang tertiggal masih sulit ditemukan listrik. Mereka masih menggunakan bantuan pencahayaan dan hal lainnya dari perabotan tradisional. Mereka masih menerapkan kehidupan yang sederhana di tengah berkembangnya arus gelobalisasi. Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau itulah yang mereka miliki. Pemerintah masih menutup mata pada hal-hal penting seperti itu. Bayangkan saja disetiap harinya, anak-anak yang tinggal di daerah tanpa listrik belajar ditemani cahaya lampu minyak. Sedangkan anak-anak kota bisa belajar dimana saja, ditengah gemerlapnya ibukota. Namun demikian keduanya tetap anak-anak Indonesia.
                Belum puas siksa karena listrik yang tidak ada, minimnya akses air bersihpun menjadi hal lain yang menyulitkan masyarakat Indonesia. Kurangnya air bersih nampaknya tidak hanya dirasakan warga di daerah terpencil. Meski didaerah terpencil akses air sangat sulit bahkan harus menempuh berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air. Di daerah Indonesia lain yang tidak jauh dari kota besar pun juga sering kekurangan air. Selain karena musim panas berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan, terkadang warga yang boros air juga yang menyebabkan sulitnya air bersih. Ketidaksadaran diri untuk menghemat SDA yang ada dan menggunakan seperlunya menjadi penyebab lain kurangnya air.
                Hanya sebagaian warga yang kreatif dan peduli yang mampu menciptakan hal yang mempermudah kehidupan masyarakat di daerah tertinggal. Kurangnya perhatian pemerintah membuat warga di daerah terpencil mengkritisi lingkungan di sekitar mereka. Sadar akan kurangya fasilitas yang memadai mereka menciptakan akses untuk mempermudah kehidupan. Seperti menciptakan turbin yang berada di arus sungai yang cukup besar. Ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga listrik sederhana untuk menerangi desa mereka yang tertinggal.
                Tidak hanya terjadi di darat, wilayah Indonesia yang sebagian besar perairan juga menjadi hambatan untuk pembangunan. Akses laut yang tidak menentu membuat penduduk yang tinggal di pulau-pulau terpencil nan jauh dari pulau besar sulit menjamah pulau lain untuk menjalin kerja sama untuk menghidupi mereka. Jikapun ada alat-alat canggih yang dapat mendeteksi dan menembus cuaca apapun macamnya, belum tentu di daerah tersebut menjangkaunya. Terlebih menggunakannya.
                Sekali lagi pemerintah masih berdiam diri. Untuk kesekian kalinya pembangunan yang direncanakan belum terealisasikan. Baik di desa maupun kota, pembangunan yang di gadang-gadang akan dialakukan hanya seperti angin berlalu. Masyarakat telah kenyang akan pil pahit pemberian pemerintah. Terlebih daereh Indonesia yang tertinggal dan jauh dari pembangunan. Kita yang memiliki akses jalan raya terkadang masih mengeluh dengan rusaknya sebagian aspal, padahal selain kualitas infrastruktur itu sendiri, kita-lah yang menggunakannya jadi tanpa kita sadar kita yang merusaknya. Dengan demikian kita yang telah memiliki fasilitas umum yang memadai harus turut menjaga agar pembangunan di Indonesia bisa merata dan menjadikan Indonesia mampu mewujudkan cita-citanya.

lirik sountrak drama korea rooftop prince, bernyanyi menggunakan Bahasa Indonesia




Halo! Untuk pecinta drama korea pastinya tahu dong sama OST-OST nya yang keren-keren. Apalagi kalo OST yang mellow banget pasti banjir-banjir tu air mata. Kalo kita nyaniin lagu koreanya suka nggak? Aku sih suka banget, tapi pas coba-coba nyayi’in pake bahasa Indonesia aneh sih, tapi gak apa-apalah sambil ngehafalin artinya. Jadilah saya buat lirik Indonesia sesuai lagunya. Bisa dinyanyiin bareng lagunya sih. Meski aneh, tapi ini salah satu bentuk kecintaanku sama DRAKOR. So! I share my lyric, meski ga tahu betul artinya betul-betul bener apa nggak, paling nggak nggak beda jauhlah.
Untuk kali ini, pertama kalinya nge-translate ROOFTOP PRINCE “After long time”

Rooftop Prince OST
Baek ji young/jo eun

                             AFTER LONG TIME
Bertemu kita berbagi cerita, Dimana hanya kita yang tahu
Tak dapat ku hapus, tak dapat ku buang, tak dapat ku lupa
Ku melihat jalan cukup lama
Kenangan yang ku suka saat lewat jalan ini
Terus menerus muncul hentikan lagkahku

Telah sekian lama hingga saat ku datang
Ku rindu masa itu tanpa aku sadar fikirkan itu
Karena dirimu yang melangkah di mataku
Kenangan saat bersama seperti bintang bertaburan
Namun bagai....mana denganmu?

Orang-orang terlihat bahagia
Hanyaku dibiarkan sendiri kesepian
Tak berpura-pura kumerindukanmu

Telah sekian lama hingga saat ku datang
Ku rindu masa itu tanpa aku sadar fikirkan itu
Karena dirimu yang melangkah di mataku
Kenangan saat bersama seperti bintang bertaburan
Namun aku pun menangis

Dapatkah kau lihatku saat ku menantimu
Dapatkah nantinya kunyatakan perasaanku

Aku rindu kau bahkan lebih rindu kau
Karena dirimu ku tahu tentang kamu
Kehidupan tanpamu semuanya penuh dengan penyesalan
Tanpa dirimu kurasakan kehamparan
Sekarang langkahku rindu tempat ini
Ku tak dapat beranjak dan memanggilmu


마주보며 나누던 얘기들 우리둘만 알았던 얘기들
majubomyeo nanudeon yaegideul uridulman aratdeon yaegideul
지울수없나봐 버릴순없나봐 잊지못하나봐
jiulsueomnabwa beorilsuneomnabwa itjimotanabwa
오랜만에 둘러본 거리들
oraenmane dulleobon georideul
이길을 지날때면 좋아했던 기억이
igireul jinalttaemyeon johahaetdeon gieogi
자꾸 떠올라서 발길을 멈춘다
jakku tteoollaseo balgireul meomchunda
한참 지나서 지금여기 왔어
hancham jinaseo na jigeumyeogi wasseo
그때가 그리워서 모른체 살아도 생각나더라
geuttaega geuriwoseo moreunche sarado saenggangnadeora
그런 너라서 자꾸눈에 밟혀서
geureon neoraseo jakkunune barphyeoseo
함께 보낸 시간들 추억들도 별처럼 쏟아지는데 어떠니
hamkke bonaen sigandeul chueokdeuldo byeolcheoreom ssodajineunde neon eotteoni
행복해만 보이는 사람들
haengbokhaeman boineun saramdeul
나만 혼자 외로이 남은 것만같아서
naman honja oeroi nameun geotmangataseo
아닌 척해봐도 니생각이난다
anin cheokhaebwado nisaenggaginanda
한참지나서 지금여기 왔어
hanchamjinaseo na jigeumyeogi wasseo
그때가 그리워서 모른체 살아도 생각나더라
geuttaega geuriwoseo moreunche sarado saenggangnadeora
그런 너라서 자꾸눈에 밟혀서
geureon neoraseo jakkunune barphyeoseo
함께 보낸 시간들 추억들도 별처럼 쏟아지는데 눈물이나
hamkke bonaen sigandeul chueokdeuldo byeolcheoreom ssodajineunde nunmurina
여기서널 기다리면 볼수있을까
yeogiseoneol gidarimyeon bolsuisseulkka
그땐말해줄수있을까 이런내 마음을
geuttaenmalhaejulsuisseulkka ireonnae maeumeul
보고싶어서 더보고싶어져서
bogosipeoseo deobogosipeojyeoseo
그런 나라서 너밖에 몰라서
geureon naraseo nan neobakke mollaseo
너없이살다보니 모든게 후회로 가득하더라
neoeobsisaldaboni modeunge huhoero gadeukhadeora
니가없어서 허전한게 많아서
nigaeobseoseo heojeonhange deo manhaseo
오늘도 발걸음은 이자리가 그리워 가지못하고 불러본다
oneuldo balgeoreumeun ijariga geuriwo gajimotago bulleobonda